marquee

Sugeng rawuh

Selasa, 25 Oktober 2011

Tentang Poliandri


Blogger. . Kemarin teman saya nanya, mengapa wanita itu nggak boleh POLIANDRI (lebih dari satu pasangan) ? kalo menurut saya, Allah telah berfirman dalam Qur’an Surat An-Nisa ayat 34 yang artinya” Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan,…” , jadi jelas disini kedudukan seorang laki-laki adalah sebagai pemimpin bagi perempuan, oleh karena itu Seorang pemimpin itu hanya boleh ada Satu, tidak boleh lebih. Misal dalam suatu Negara mempunyai lebih dari satu presiden atau pemimpin Negara, maka dapat dipastikan Negara itu akan hancur. Kita liat aja diri kita sendiri, tubuh kita terdiri hanya mempunyai 1 kepala, coba kalo lebih pasti dibilang aneh kan??. Selain itu, hukum islam mengharamkan adanya poliandri karena menyangkut nasab keturunannya kelak. Kalau seorang wanita memiliki suami lebih dari 1, terus hamil…lha…yang menghamili siapa? Kan bisa jadi kacau urusannya karena tidak jelas siapa ayahnya.
Namun, keharaman poliandri bukan semata-mata disebabkan karena khawatir akan terjadinya kerancuan keturunan. Tetapi memang semata-mata keharaman yang telah Allah SWT tetapkan.
Buktinya, poliandri tetap haram dilakukan oleh seorang wanita yang mandul. Kalau seandainya keharamannya hanya karena khawatir akan terjadi kerancuan dalam masalah keturunan, seharusnya wanita mandul boleh berpoliandri. Sebab dia tidak akan berketurunan, sehingga tidak akan timbul masalah kerancuan tersebut.
Demikian juga hal yang sama berlaku buat laki-laki mandul. Meski sudah bisa dipastikan tidak bisa mengakibatkan kehamilan pada diri seorang wanita, tetap saja dia diharamkan berzina. Sebab haramnya zina bukan semata-mata mengkhawatirkan lahirnya anak di luar nikah.
Dalam syariat Islam, jangankan poliandri, melamar wanita yang sedang dalam lamaran orang lain pun hukumnya haram. Termasuk melamar wanita yang sudah dicerai suaminya, selama masa iddah belum selesai, juga haram hukumnya. Apalagi sampai menikahi isteri orang, maka keharamannya dua kali lipat.

Poliandri dalam alqur’an
Poliandri yaitu sistem perkawinan yang membolehkan seorang wanita mempunyai suami lebih dari satu orang di waktu yang bersamaan.
Sejauh ini penulis baru menemukan satu ayat al-Qur’an yang secara tegas melarang poliandri.
1.    Surat al-Nisa’ Ayat 24

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُم مَّا وَرَاء ذَلِكُمْ أَن تَبْتَغُواْ بِأَمْوَالِكُم مُّحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُم بِهِ مِن بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sabab al-Nuzul
عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ أَصَابُوا سَبْيًا يَوْمَ أَوْطَاسَ لَهُنَّ أَزْوَاجٌ فَتَخَوَّفُوا فَأُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ : وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ  .
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ يَوْمَ حُنَيْنٍ بَعْثًا إِلَى أَوْطَاسَ فَلَقُوا عَدُوَّهُمْ فَقَاتَلُوهُمْ فَظَهَرُوا عَلَيْهِمْ وَأَصَابُوا لَهُمْ سَبَايَا فَكَأَنَّ أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَرَّجُوا مِنْ غِشْيَانِهِنَّ مِنْ أَجْلِ أَزْوَاجِهِنَّ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِي ذَلِكَ { وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ  أَيْ فَهُنَّ لَهُمْ حَلَالٌ إِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهُنَّ
Sabab nuzul di atas menegaskan dilarangnya menikahi wanita yang telah bersuami. Larangan itu memperoleh pengecualian bagi wanita yang menjadi budak. Namun demikian, menikahi wanita budak yang telah bersuami itu diperbolehkan setelah berlalunya masa iddah. Dari sini bisa dipahami bahwa wanita, baik ia sebagai wanita merdeka maupun sebagai budak, tidak diperkenankan memiliki suami lebih dari satu orang, atau yang disebut dengan poliandri.

Munasabah Ayat
Dengan ayat sebelumnya:
Ayat ke-23 Allah memberikan penjelasan secara rinci siapa saja wanita yang tidak boleh dinikahi. Lalu diteruskan dengan ayat ke-24. Dengan demikian, ayat ke-24 merupakan kelanjutan kalimat dari ayat sebelumnya.
Dengan ayat setelahnya:
Ayat ke-25 memberikan kelonggaran kepada orang yang tidak mendapatkan kesempatan menikahi seorang wanita yang halal dinikahi. Orang itu diperbolehkan menikahi seorang wanita hamba sahaya dengan tetap memberikan mahar.

2.    Larangan Poliandri
Ayat ke-24 di atas melarang seorang laki-laki menikahi wanita yang telah bersuami. Dengan demikian, ayat itu menutup kemungkinan berlakunya perkawinan poliandri dalam Islam.  Atau, dilihat dari sudut pandang perempuan, ini berarti larangan kawin poliandri atau bersuami lebih dari satu.

3.    Wanita-wanita Yang Dilarang untuk Didekati
Ada beberapa keadaan dimana seorang wanita tidak boleh dipinang, apalagi dinikahi, yaitu:
a.    Wanita yang telah bersuami
Wanita yang telah bersuami tidak boleh dipinang, meskipun dengan syarat akan dinikahi pada waktu dia telah boleh dikawini. Seperti, “Bila kamu dicerai oleh suamimu saya akan mengawini kamu.” Atau dengan bahasa sindiran, “Jangan khawatir dicerai suamimu, saya yang akan melindungimu.”
b.    Wanita yang sedang menjalani iddah raj‘i
Wanita yang telah dicerai suaminya dan sedang menjalani iddah raj‘i sama keadaannya dengan perempuan yang sedang punya suami dalam hal ketidakbolehannya untuk dipinang, baik dengan bahasa terus-terang atau bahasa sindiran. Alasannya bahwa perempuan dalam iddah talak raj‘i statusnya sama dengan perempuan yang sedang terikat dalam perkawinan.
c.    Wanita yang dalam iddah karena kematian suaminya
Wanita yang sedang menjalani iddah karena kematian suaminya tidak boleh dipinang dengan menggunakan bahasa terus-terang, namun dibolehkan meminangnya dengan bahasa sindiran.
d.    Wanita yang telah dipinang orang lain
Wanita yang telah dipinang oleh orang lain tidak boleh dipinang. Hal ini dijelaskan oleh Nabi Saw.:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَخْطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ .

4.    Pembatalan Nikah Poliandri
Apabila seorang wanita mempraktekkan poliandri, maka Pengadilan Agama dapat membatalkannya. Namun demikian, batalnya suatu perkawinan tidak memutuskan hubungan hukum antara anak dengan orang tuanya.



5.    Hikmak Larangan Poliandri
Hikmah utama dalam hal ini adalah untuk menjaga kemurnian keturunan dan kepastian hukum seorang anak. Anak yang sejak berada dalam kandungan telah memiliki hak, harus mendapat perlindungan dan kepastian hukum.

Apabila poliandri tidak dibenarkan bagi wanita hal itu dikarenakan pertama, poliandri (beberapa suami) berseberangan dengan tabiat dan mental wanita. Kedua, melalui cara seperti ini, keselamatan dan kesehatan generasi berada dalam ancaman. Ketiga, kesulitan untuk mengenal manusia dan sebagainya.
Allahu a’lam..

Senin, 24 Oktober 2011

Mencintai karena Allah?? Apa itu??

Mencintai karena Allah adalah mencintai yang memang diizinkan, diperintahkan, dianjurkan bahkan dikasih pahala, seperti cinta ortu itu krn allah nyuruh kita berihsan, cinta kakak adik dan sesama muslim. (Mas Adhi Fikri)

dengan mencintainya akan menambah kecintaan qt kepadaNya (Ustadz Miftahudin bin Hasan)

Mencintai Allah Subhanahu wata’ala, berarti mencintai Rasulullah Sholallahu’alayhi wassalam, dan mencintai seseorang karena Allah, berarti menjaga kesesuaian cinta itu dengan tuntunan Allah Subhanahu wata’ala serta tuntunan Rasulullah Sholallahu’alayhi wassalam.

Apakah sama keadaannya orang yang hanya mengatakan ‘aku cinta padamu’ tanpa ia menikahinya, dengan orang yang berkata ‘aku mencintaimu’ dengan pendahuluan ta’aruf yang syar’i dan disahkan dalam pernikahan? Tidak!Karena bagi 2 orang yang saling mencintai dan menjaganya hingga masuk ke dalam gerbang pernikahan, maka mulai dari pernyataan cintanya, berpegangan tangannya, saling menatapnya, dsbnya bernilai pahala dan menggugurkan dosa. Sedangkan pada kondisi yang pertama, hal itu justru akan menghilangkan malu diantara kedua insan lain jenis itu sedikit demi sedikit, silaki-laki akan memandang si gadis dengan berulang-ulang, si laki-laki akan mencari cara untuk memegang tangannya, dan seterusnya yang tidak lain semua itu adalah zina-zina kecil, penghulu terjadinya zina yang besar, na’udzubillah.

Rasulullah bersabda, “Ya Tuhanku, aku adalah hamba-Mu—Engkau menyandangkan kemuliaan tanpa akhir dan memberi pahala tanpa akhir. Sebelum melakukan suatu tindakan, kita telah diberi kemuliaan. Jika kita mengetahui hal tersebut maka segalanya adalah untuk Allah. Salah satu tindakan yang penting adalah berhubungan dengan sesama manusia. Hal ini juga harus dilakukan karena Allah dan dengan cinta untuk Allah bukan dengan cinta untuk dirimu, sebab jika kalian mencintai seseorang bukan karena Allah , kadang-kadang cinta itu bisa rusak, tetapi jika cinta itu untuk Allah , dia tidak akan meninggalkanmu.

Segala sesuatu untuk Allah akan berlangsung terus-menerus, permanen sedangkan segala sesuatu untuk diri sendiri bersifat sementara. Oleh sebab itu ambillah yang permanen, jangan yang bersifat sementara. Cinta adalah anugerah yang paling berharga yang diberikan oleh Allah kepada kita melalui Rasulullah . Pada saat kalian memberikan cinta kepada seseorang berarti kalian memberikan sesuatu yang paling berharga yang kalian miliki. Berikanlah cinta itu kepada Allah agar menjadi permanen.

Jika kalian memberi cinta yang sifatnya sementara, itu berarti munafiq, dan sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan cinta kalian. Grandsyaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata jika kalian mencintai seseorang dan orang itu memberi segala macam kesulitan dan menyakitimu, kemudian meletakkan tubuhmu dalam mesin pemotong daging. Dan ketika keluar dari mesin tubuhmu masih seperti sediakala, kalian akan tetap mencintainya, berarti itu adalah cinta sejati dan itu adalah cinta untuk Allah . Tetapi jika karena satu kata yang dia ucapkan membuat kalian marah dan tidak mencintainya lagi, berarti itu adalah cinta palsu yang tidak nyata. Tak seorang pun akan menerima cinta seperti itu.

Saat kalian berkata bahwa kalian mencintainya karena Allah , kalian harus menerima segala hal yang berasal dari-Nya, kalau tidak kalian adalah orang yang munafiq. Berikanlah cintamu demi Allah sehingga pada saat dia mengganggumu,cintamu adalah untuk Allah. Hal ini sangat penting untuk diketahui dan dipelajari karena ini bisa membawa kalian ke posisi tertinggi. Semoga Allah memberi kita cinta yang tidak pernah berubah karena sesuatu, yang bersifat permanen dalam segala kondisi.
Cinta yang dijalin karena kepentingan duniawi tidak mungkin bisa langgeng. Bila manfaat duniawi sudah tidak diperoleh biasanya mereka dengan sendirinya berpisah bahkan mungkin saling bermusuhan. Berbeda dengan cinta yang dijalin karena Allah, tidak ada maksud dan tujuan kecuali Allah dan tidak mengharapan balasan kecuali dari Allah, mereka akan menjadi saudara yang saling mengasihi dan saling membantu, dan persaudaraan itu tetap akan berlanjut hingga di negeri Akhirat. Allah berfirman, artinya, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67) Ya Allah, anugerahilah kami hati yang bisa mencintai teman-teman kami hanya karena mengharap keridhaan-Mu. Amin. (Ibnu Umar)

Ketahuilah, setiap orang arif tidak cinta segala sesuatu melainkan hanya cinta kepada Allah. Karena ia berkeyakinan dalam hati bahwa seluruhnya dari Allah. Dan melazimkan Cinta kepada Allah akan senang pada makhluk-Nya dan segala perbuatannya. Karena cinta kepadanya akan mendatangkan cinta kepada Allah, seperti cinta kepada Nabi Muhammad SAW karena beliau adalah pesuruh Allah. Begitu juga cinta kepada para sahabatnya karena cinta kepada Nabi SAW. Sedangkan cinta Nabi SAW akan menarik cinta kepada Allah. Begitu juga cinta kepada auliya’, dan ulama itu cinta kepada Allah. Cinta kepada makanan karena cinta kepada Allah, sebab makanan salah satu nikmat-Nya yang menjadi penguat untuk beribadah. Cinta kepada pakaian dan perempuan dan segala isi dunia karena cinta kepada Allah, semuanya nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Setiap yang engkau cintai dikiaskan cinta kepada Allah.

Maka jika ada seseorang yang mengucapkan Ana yuhibbuka fillah (aku mencintaimu karena Allah), maka dalam arti yang sebenar-benarnya ialah cintanya itu ialah semata-mata karena Allah, yang dimaksud kalimat cinta disini bukanlah sebagaimana kalimat cinta antara hubungan asmara pemuda-pemudi, akan tetapi lebih cenderung kepada hubungan cinta kasih yang ikhlas antara sesama muslim dalam arti persaudaraan serta tidak ada nafsu dan syahwat yang melekat, karena bukan nafsu dan syahwat lah ia cinta melainkan karena hanya Allah. Karena dengan ia melihat/teringat seseorang tersebut, maka dia `melihat’ pandangan bathinnya tertuju semata-mata karena Allah dan mendatangkan kecintaan terhadap Allah atau urusan ukrawi.

Kecintaan seorang muslim terhadap muslim lainnya tentu bukan disebabkan nafsu syahwat yang memuncak dalam perasaannya, tetapi karena kesadaran terhadap ukhuwah dan peningkatan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan terhadap akhlaq yang mulia atau ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah. Karena itu, ungkapan cinta mereka bukan merupakan pernyataan gombal diantara mereka seperti halnya ungkapan-ungkapan cinta oleh orang-orang sekarang yang mengikuti dari golongan non muslim yang hanya disampaikan setiap hari valentine saja. Tapi haruslah mengungkapkannya seperti yang disunnahkan oleh Rasululah.

Islam membimbing kita agar mengutarakan perasaan cinta ini dengan terus terang yaitu uhibbuka fillah atau uhibbuki fillah. Ungkapan ini membedakan antara cinta yang dilandasi iman dengan cinta yang berdasarkan syahwat. manakala seorang muslim menerima perkataan ini maka ia hendahnya menjawab Ahabbakallah lima ahbabtani iyyahu (semoga Allah mencintai anda disebabkan kecintaan anda kepadaku kepada Dia). Ungkapan mesra seperti ini akan menambah eratnya tali ikatan ukkuwah diantara sesama muslim.

Memang harus dibedakan mana yang mencintai pasangan jenisnya karena Allah Azza wa Jalla dan mana yang sekedar cinta karena ketertarikan kepada pasangan jenis saja, dan keduanya jelas berbeda. Hal itu dapat dilihat dari motif dasar dia mencintainya. Apakah dasarnya adalah agama dan keshalihannya ataukah tidak?

Biasanya seseorang mencintai kepada pasangan jenis, karena memang orang itu suka atau tertarik pada pasangan jenisnya saja, karena kecantikan dan ketampanan, atau hal lain yang menarik baginya. Dan tidak didasarkan cinta karena Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Oleh karena itu sebaiknya kita semua kembali melihat diri kita masing-masing, apakah sifat cinta karena Allah Azza wa Jalla telah ada dalam diri kita ataukah belum? Kalau sudah bersyukurlah dan mintalah kepada Allah agar tetap istiqomah, dan kalau belum marilah kita perbaiki iman dan Islam kita sehingga bisa tumbuh sifat tersebut dalam diri kita.

Dan perlu kita ketahui, kalau seandainya seseorang itu benar-benar cintanya karena Allah, maka pasti ia akan berusaha berjalan sesuai dengan syari’at agama Allah, dan tidak akan melanggar ketentuan-ketentuan dan larangan-larangan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Wallahu a’lam.

Minggu, 23 Oktober 2011

Abah

Kau tinggalkan kenangan yang mendalam
dalam kesendirian ku mengingatmu
meski hanya sedikit kenangan tentangmu
ku coba menemukannya...

Ku menangis dalam hati
berpura-pura mengikhlaskan kepergianmu
agar kau tetap tersenyum di atas sana
melihat anak-anakmu berdiri tegak disini...

Kini aku mengerti betapa kerasnya hidup
tak seperti yang dulu kubayangkan
namun, aku masih tak bisa seperti dirimu
yang masih bisa tetap tersenyum, bahkan tertawa...

abah, aku mohon maaf
karena aku belum bisa sepertimu...

Mungkinkah “Dia” jodohku, ya Allah ??


Pertama kali aku bertemu, sepertinya aku sudah lama mengenal “dia”, entah karena wajahnya yang familiar atau memang aku (dulu) pernah mengenal “dia”. Begitulah penilaianku kepada “dia” saat pertama kenal di kelas I. Entah kenapa “Dia” selalu hadir saat aku merasa sendiri, saat hati ini merasa sakit, dan saat cinta ini bertepuk sebelah tangan.
Sebut saja “Dia”, seorang wanita berjilbab yang berkulit hitam manis dan senyumnya pun juga manis. Jujur, aku suka melihat “Dia” (hanya sebatas suka) mungkin karena “Dia” punya teman yang lebih cantik dan aku lebih suka (bahkan Cinta) pada “teman Dia”. Namun, aku sadar siapalah aku dan siapa “teman Dia”, dalam pikirku ngga mungkin seorang seperti “teman Dia” mempunyai rasa yang sama seperti perasaanku kepada “teman Dia”, walaupun aku dan “teman Dia” sangat akrab tapi itu hanyalah sebatas teman tidak lebih.
Setahun berlalu, aku dan “Dia” kembali satu kelas tapi tidak dengan “teman Dia”. “teman Dia” memilih jurusan yang berdeda dengan aku. Mungkin, dengan begitu perasaanku terhadap “teman Dia” akan hilang dan benar juga setelah satu bulan rasa itu telah pergi walau belum seluruhnya. Namun aku masih tetap suka kepada “Dia” (masih sebatas suka). Di tahun ini, ada murid baru dari luar kota. Berkulit putih dan berparas cantik, sungguh mempesona ciptaan-MU ya Allah. Sekali lagi, nyaliku terlalu kecil untuk mengutarakan kekagumanku kepada murid baru itu, hati kecilku berkata, “mungkin murid baru itu hanyalah cinta sesaat, jadi pastilah besok akan hilang”.
Di tahun ketiga, tidak ada lagi pengacakan kelas. Dan itu artinya, untuk ketiga kalinya aku dan “Dia” satu kelas. Seperti kata pepatah jawa “Witing tresno jalaran soko kulino”, itu yang aku rasakan saat itu. Rasa suka yang dulu, kini berubah menjadi sayang. Aku tak tahu, apakah itu sayang sebenarnya atau hanya sebatas rasa sayang kepada teman satu perjuangan. Apapun itu, aku merasa nyaman dengan perasaan itu. Rasa sayang kepada “Dia” semakin menjadi-jadi saat hari-hari terakhir sekolah. Saat itu, aku ingin mengungkapkan sayang ini kepada “Dia”, tapi aku belum mampu.
 Sebulan setelah kelulusan Madrasah Aliyah, aku jarang sekali bertemu dengan “Dia”, aku selalu memikirkannya, berharap “Dia” tahu perasaanku. Di tengah kegalauan, hati ini kembali merasakan cinta yang melebihi rasa sayangku kepada “Dia”. Cinta ini tidak kepada “teman Dia” atau kepada murid baru itu, tetapi kepada seorang wanita yang umurnya 4 tahun lebih muda dari aku, wanita itu adalah tetanggaku di rumah sebut saja “teman rumah”. Cinta itu berawal dari kegiatan sms, dalam smsnya, “teman rumah” selalu curhat tentang semua masalah-masalahnya mulai dari sekolah, keluarga bahkan masalah cintanya. Mungkin karena kegiatan sms itu rasa cinta timbul dengan mudah, dan aku merasa akulah yang paling pantas menemani “teman rumah”ku, akulah yang paling pantas disamping “teman rumah”ku,  akulah yang paling bisa membuat hati “teman rumah”ku kembali bahagia.
Tepat pada ulang tahunku yang ke 19, aku pergi merantau. Di perantauan aku masih setia mendengar curhatan “teman rumah”ku. Namun,  di bulan kelima perantauanku aku tak pernah lagi dapat kabar dari “teman rumah”. Di suatu waktu, aku mencoba menelfon “teman rumah” namun aku kaget karena suara yang ada di telfon adalah seorang laki-laki. Pikiranku melayang, kegalauan semakin menjadi-jadi, aku putuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan “teman rumah”ku. Lagi-lagi, ditengah kegalauan “Dia” kembali hadir. Hatiku berkata, “mungkinkah ini semua sudah direncanakan?? Tapi, siapa yang merencanakan??”, pertanyaan ini selalu menghantui diriku, “apakah “Dia” memang jodoh untukku??”. Namun, seperti biasa “Dia” hilang dalam pikiranku ketika aku kembali merasakan cinta pada seorang wanita. Kali ini, wanita itu adalah “teman kerja”ku. Benih-benih cinta mulai tumbuh karena aku sering jalan dengannya dan sesekali mendengar curhatannya. Aku meyakinkan hati ini agar tidak mencintainya, aku tak ingin merusak hubungan “teman kerja”ku dengan kekasihnya. Dan aku berhasil, aku mulai bisa melupakan cinta “teman kerja”ku.
Setahun berlalu aku mencoba menghubungi “Dia” kembali. Alhamdulillah, “Dia” langsung merespon niatku ini. Walaupun lewat SMS aku merasa bahagia dan “Dia”pun sepertinya ikut bahagia. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, aku dan “Dia” semakin dekat. Hatiku berkata, semoga “Dia” memang yang terbaik untukku, dan akan ku akhiri pencarian ini.
Hampir 2 tahun merantau, niat untuk kuliah tumbuh lagi. Aku ingin menepati janji kepada diriku sendiri dan kepada “teman rumah”ku. Aku berjanji,  aku pergi ke kota selain untuk mencari uang, juga untuk melanjutkan sekolah. Petaka cinta datang di pertengahan semester 2, pepatah jawa “Witing tresno jalaran saka kulino” sepertinya memang benar. Walaupun aku tahu “teman kuliah”ku sudah mempunyai kekasih, tapi virus itu terus menyebar. Sampai sekarang, saat aku menulis tulisan ini, rasa untuk memiliki “teman kuliah”ku masih ada.
Kegalauan hati ini semakin menjadi-jadi, saat aku melihat temanku berdua dengan pacarnya, ada rasa iri dalam hati. Tapi, siapa yang mau menjadi kekasihku. Apakah “teman Dia”atau “murid baru” itu, yang keduanya akupun tak tahu sekarang ada dimana. Kepada “teman rumah”ku, yang saat ini mungkin “teman rumah”ku sedang memikirkan pemilik hatinya (tapi bukan aku). Kepada “teman kerja”ku, yang aku tahu “teman kerja”ku mencintai kekasihnya lebih dari apapun dan aku tak mungkin bisa merusak itu. Kepada “teman kuliah”ku, yang aku masih ragu dengan perasaanku, apakah aku mencintainya karena setulus hati atau aku mencintainya hanya sebagai adikku dan aku peduli dengan keadaan “teman kuliah”ku. Ataukah kepada “Dia”, yang selalu hadir di saat yang tepat , yang bisa mengerti semua keadaanku, tapi aku belum pernah tahu isi hatinya, aku belum pernah menanyakan tentang perasaan ini karena aku takut. Takut, jika aku jujur kepada “Dia”, aku tak berani lagi bertemu dengan “Dia”.
Prinsipku, aku ingin mengucapkan “AKU CINTA PADAMU” hanya kepada satu wanita dalam seumur hidupku, wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku, wanita yang akan menemaniku hingga tua, dan wanita yang bisa mencintaiku apa adanya. Siapapun wanita itu, baik “Dia”, “Dia” atau “Dia”, semuanya kan kuserahkan pada-MU ya Allah. Engkaulah penguasa hati semua makhluk-MU. Karena aku yakin “JODOH DI TANGAN TUHAN”. Semoga Engkau mendengar curhatanku ini Ya Allah.

Jumat, 21 Oktober 2011

Kata-kata Mutiara Spongebob dan Patrick

Inilah kumpulan kata-kata mutiara dalam film SpongeBob...yang begitu menyentuh...

1."pengetahuan tidak dapat menggantikan persahabatan. Aku (Patrick) lebih suka jadi idiot daripada kehilanganmu (Spongebob)"

2. spongebob: Apa yg biasanya kau lakukan saat aku pergi?
patrick : menunggumu kembali..

3. Saat spongebob menjadi kaya dan melupakan patrick juga tmn2 spongebob yang kaya pergi dari spongebob, spongebob memohon kepada patrick, dan patrick berkata:
"kalau uang bisa membuatku melupakan sahabat terbaikku, maka aku lebih memilih untuk tidak punya uang sama sekali"

4. Saat patrick di fitnah mencuri jaring ubur2 nya spongebob,patrick berkata:
" Tak apa kawan.. aku mungkin hanya bintang laut yang jelek.. lebih baik aku pergi dari bikini bottom.. ini, ambil saja barang2ku.. tapi aku tak pernah mengambil jaring mu kawan.."
(Patrick dituduh nyolong jaring dan dia sabar aja)

5. Patrick berteriak : "AKU JELEK DAN AKU BANGGA!!!"

6. Kalau kamu memberitahukan rahasia kepada seseorang, maka itu namanya bkn rahasia lagi.

7. pas spongebob mau masuk anggota jelly spotter.. terakhirnya patrick bilang:
"pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat.."

8. waktu itu ortu Patrick mau datang jenguk anaknya. Tapi Patrick takut dikatain bodoh sama ortunya. Demi Patrick, SpongeBob bela2in akting jadi orang bego biar ortu Patrick ga ngatain anaknya bego. Trus Patrick bilang ke SpongeBob:
"TEMAN ADALAH KEKUATAN"

9. waktu patrick dianggap ada keturunan raja terus mulai ngambil barang2 milik orang lain, terus dia berkata:
"hidup itu memang tidak adil, jadi biasakanlah dirimu"...

10. waktu sponge bob mau les nyetir buat dapetin sim..
"seharusnya kau belajar berjalan dulu nak, baru lah kau bisa berlari.."

11. waktu episode yg si spongebob nyari spatula baru, terus dia dapet spatula yg emas (klo ga salah), tapi si spatula emasnya ga nurut sama si spongebob akhirnya dia balik pk spatula nya yg lama.si spongebob ngomong:
"Ternyata semua yg berkilau itu belum tentu emas"

12. waktu spongebob terjepit oleh suatu benda yang akhirnya bisa terlepas karena air mata spongebob dan patrick, kemudian spongebob berkata "Kadangkala, menangis itu bisa memecahkan masalah"

Kamis, 20 Oktober 2011

Sahabat dan Pohon

Persahabatan layaknya sebatang pohon
jangan lupa siram dengan air candaan,
sinari dengan cahaya senyuman
walau akan terserang hama perselisihan
namun ingatlah selalu akan pupuk kebersamaan.

Persahabatan layaknya sebatang pohon
semakin tinggi pohon, semakin banyak ujian yang menerpa
namun, semestinya semakin kokoh juga akar-akar pengertian
yang mengikat.

Mz Pii "ketika persahabatanku diambang kehancuran"

Badai Pasti Berlalu

Malam tlah merenggut semangat hari ini,
menutup diari yang telah tercatat rapi di hati
ribuan bintang menatap penuh mesra
menemani ragaku ke alam mimpi

Ku tetap tersenyum dalam tidurku
dan akan tetap tersenyum sampai pagi
karena aku yakin...
Badai Pasti Berlalu

Mz Pii dalam Catatan hari ini